man, ocean, and computer..

Tentang Jendela Johari

Jendela Johari adalah sebuah permainan. Walaupun permainan, Jendela Johari juga membutuhkan keseriusan dalam memainkannya agar dapat didapat manfaat yang diinginkan dari permainan ini. Jendela Johari adalah permainan yang berfungsi untuk memetakan sifat orang. Sifat orang, dalam permainan ini, dianggap terbagi menjadi 4 jenis, yaitu “diketahui”, “tidak diketahui”, “tersembunyi”, dan “terbuai”. Nama-nama jenis sifat tadi sebetulnya terserah siapa saja, yang penting mempermudah saja. Penjelasannya dibawah ini :

Sifat “diketahui” adalah sifat yang diketahui oleh pemilik sifat dan juga orang lain. Pemilik sifat merasa mempunyai sifat ini, dan orang lain tau sesorang memiliki sifat ini. Sifat “tidak diketahui” adalah kebalikan dari sifat “diketahui”, jadi ya hanya tuhan yang tahu, hehe.

Sifat selanjutnya adalah sifat “tersembunyi”. Sifat yang pemiliknya saja yang tau, sedangkan orang lain tidak tau. Biasanya orang yang tertutup banyak mempunyai sifat ini. Begitu pula orang yang jaim, banyak sifat – sifat yang tersembunyi dari orang jaim. Sifat terakhir, adalah sifat “terbuai”, sifat yang hanya orang lain yang tau, sedangkan pemilik sifat justru tidak menyadari kalau ternyata mempunyai sifat tersebut, makanya disebut sifat “terbuai” 😀 .

Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Uncategorized, , , , ,

Saya dan Unit Kebudayaan Kampus

Gara-gara melihat tayangan Archipelago di Metro TV, saya jadi tertarik budaya Kalimantan. Kebetulan acara itu sedang membahas alam dan kebudayaan suku Dayak di pulau Borneo. Entah kenapa, saya takjub, wajar karena di kampus saya nggak ada unit budaya yg berasal dari pulau Kalimantan.

Kenapa bisa nggak ada? Ya unit budaya memang tergantung sumber daya manusia. Kalau ada, minimal unit itu ada. Masih banyak provinsi, atau pulau yang belum ada unit budayanya di kampus saya, di ITB. Padahal itu penting, bagi pengenalan budaya Indonesia sendiri di kalangan mahasiswa.

Lalu bagaimana caranya agar setiap provinsi ada unit kebudayaan? Saya jadi terpikir kalau anggota DPR ada perwakilan masing2 daerah ( DPD ), kenapa sistem penerimaan mahasiswa baru di kampus ini tidak menerapkan hal yang sama? Kalau alasannya hanya untuk unit budaya, rasanya terlalu simpel. Namun apabila kita bisa menyediakan beasiswa untuk siswa-siswa cerdas dari daerah, kita bisa menjamin ( atau memaksa ) mereka kembali untuk membangun daerahnya kembali. Nggak usah banyak-banyak, satu provinsi 5 orang dikalikan 33 provinsi, itu sudah cukup, untuk penyerataan sarjana kampus Ganesha di daerah-daerah, selain itu juga untuk membasahi leher mahasiswa Indonesia yang penuh dahaga akan budaya di kampusnya. Daripada penerimaan mahasiswa yang sistemnya tidak jelas mau kemana, lebih baik seperti ini ( seenaknya :p ).

Ah, andai saya Rektor 😀

Filed under: Uncategorized,