man, ocean, and computer..

Nama Kampus dan Identitas Bahasa

Ceritanya begini, saya baru saja mendapat pengumuman diterima menjadi peserta acara internasional di suatu negara tetangga. Disitu saya melihat saya beserta delegasi dari kampus lainnya. Disitu tertulis nama dan kampus asal masing2. 

Disitu tertulis nama saya: Faisal D Purnawarman, Institut Teknologi Bandung. Paling beda, karena hanya saya yg menggunakan nama kampus dalam Bahasa Indonesia. Yang lain menggunakan nama kampus mereka yang di-English kan. First of all, saya tidak menyalahkan mereka karena menggunakan nama kampus dalam bahasa Inggris, tapi disinilah menariknya.

Sebagian besar orang membawa nama kampus, sekolah, lembaga, instansi, komunitas, organisasi, atau apapun yang mereka wakili, dengan menggunakan nama yang di-english kan saat mengikuti acara internasional. Sekali lagi, itu tidak salah. Tapi ada beberapa poin menarik disini. Pertama, nama lembaga, atau kampus dalam hal ini, adalah identitas. Hampir semua nama kampus di Indonesia bisa di-english kan. Namun, apabila nama tersebut mempunyai nama resmi, kenapa tidak memakai nama resminya. Hampir semua nama kampus yang non-english mempunyai nama resmi yang bahkan kita sering mendengarnya (contoh nama2 kampus tsb akan saya tulis dibawah).

Hal menarik kedua adalah berkaitan dengan promosi bahasa dan negara Indonesia. Nama yang Indonesia akan mudah diingat dan terngiang di pikiran karena unik, aneh, atau lucu, bagi mereka tentunya. Itu bagus, untuk promosi bahasa dan negara. Nama2 khas lokal pasti mudah diingat orang bule, seperti halnya nasi goreng, bukan fried rice. Sama halnya di negara lain, sushi, bukan rolled rice. Itu hanya contoh.

Saya pernah membaca blog dosen ITB yang membahas ini dan saya juga temukan hal menarik lainnya. Salah satunya adalah mestinya ada nama standar yang tetap, karena untuk kepentingan citation atau jurnal yang dikenal. Apabila berbeda2 nama, skor nilai bisa terpecah2. Selain itu dosen ini juga mengundang diskusi di milis dosen, dan jawabannya mengerucut: apabila ingin dipaksa menggunakan bahasa Inggris, pakai Bandung Institute of Technology. Yang kedua, tetap menggunakan nama Insitut Teknologi Bandung, karena (saya juga baru tau) menurut UU Bahasa Indonesia pasal 36, nama Perguruan Tinggi di Indonesia harus menggunakan Bahasa Indonesia. Untunglah pada pengumumann MoU ITB dengan kampus asing, sudah menggunakan nama resmi ini.

Nah kesimpulannya, start using call your name with your identity. Mungkin nama anda bisa di-english-kan juga, tapi tidak nama saya, hehe. Untuk mahasiswa Indonesia, gunakan nama kampus aslimu ya nak, biar terdengar nama khas kampus-mu dan  Bahasa Indonesia-mu. Jangan kalah sama nama khas Universiti Teknologi Malaysia, Chulalongkon Mahawitthayalai, Jami’at al-Azhar, TU Delft, Politecnico de Milano, Chalmers Tekniska Hogskola, Universitat Politecnica de Catalunya, Ecole Centrale de Nantes, Technische Universitat Munchen, ETH Zurich, Universidade de Sao Paulo, dan yang lainnya.

Filed under: Uncategorized

Belajar Bersyukur

Di socmed sedang ramai hastag #100happydays yang isinya adalah postingan dalam rangka mensyukuri nikmat sekecil apapun. Seringkali hal2 yang kecil pun pantas disyukuri. Berbicara tentang hal bersyukur dan mensyukuri, saya jadi teringat pesan dan pelajaran hidup dari pembimbing lapangan saya selama kerja praktek (KP) di Banyuwangi.

Pembimbing resmi saya saat KP memang orang perusahaan tempat saya KP, yaitu Semen Gresik, yg sekarang berganti nama menjadi Semen Indonesia. Tetapi sehari2nya, saya bersama beberapa konsultan pengawas pihak ketiga yang mengajari saya banyak hal. Tidak hanya tentang teknis dalam rangka KP, tetapi juga soal bersyukur.

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,581 other followers